SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING DI DUNIA
Pemikiran-pemikiran mengenai bimbingan dan konseling
memang sudah ada sejak jaman Yunani kuno. Karena ketertarikannya pada pemahaman
psikologis individu, Plato dianggap sebagai konselor Yunani kuno saat itu. Kemudian
menyusultokoh-tokoh lain seperti Aristoteles, Hippocrates, dan para dokter
(tabib) yang jugamenaruh perhatian terhadap bidang psikologi. Namun, gerakan
bimbingan dan konseling di sekolah mulai berkembangsekitar permulaan abad ke-20
sebagai dampak dari revolusi industri. Tepatnya tahun1908-1909 yang merupakan
periode dasar-dasar ilmiah bimbingan dan konselingdiletakkan oleh beberapa ahli
ilmu jiwa dan pendidikan. Masalah bimbingan dankonseling di Amerika Serikat
telah mulai dirintis sejak tahun 1887.
Di AmerikaSerikat, gerakan bimbingan dan konseling
dipelopori oleh tokoh-tokoh berikut:
1)
Eli Weaper, pada tahun 1906 menerbitkan buku ‘Memilih
Suatu Karir´dan membentuk komite guru pembimbin g di setiap
sekolah menengah di New York. Komite tersebut bergerak untuk membantu siswa
dalammenemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang bimbinganmenggunakan
kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadiseorang pekerja yang
produktif.
2)
Jesse B. Davis, seorang konselor sekolah di Detroit
mulai memberikanlayanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA pada tahun
1898.Pada tahun 1907, dia diangkat menjadi kepala SMA di Grand Rapids,Michigan,
dan memasukkan program bimbingan di sekolah tersebut. Tujuan dari
program bimbingan tersebut adalah untuk membantu siswa agar mampu:
(a) mengembangkan karakternya yang
baik sebagai asset bagisetiap siswa dalam rangka merencanakan, mempersiapkan,
dan memasukidunia kerja;
(b) mencegah dirinya dari perilaku bermasalah;
(c)menghubungkan minat pekerjaan dengan kurikulum
3)
Frank Parson, dikenal sebagai ‘Father of The Guidance
Movement in American Education’. Dia mendirikan biro pekerjaan pada tahun 1908
diBoston Massachussets, yang bertujuan membantu siswa dalam memilih karir yang
didasarkan atas proses seleksi secara alamiah dan melatih guruuntuk memberikan
pelayanan sebagai konselor. Dialah yang mengemukakan istilah atau pengertian
tentang vocational guidance. Dia pulayang mengusulkan agar masalah vocational
guidance dimasukkan dalamkurikulum sekolah.
4)
E. G. Will Amson, pada
akhir tahun 1930 dan awal tahun 1940 menulis buku ‘How to Counsel Students: A
manual of Techniques for Clinical Counselors’. Model bimbingan sekolah yang
dikembangkan oleh Williamson terkenal dengan nama trait and factor (directive)
guidance. Dalam model ini, para konselor menggunakan informasi untuk
membantusiswa dalam memecahkan masalahnya, khususnya dalam bidang pekerjaandan
penyesuaian interpersonal. Peranan konselor bersifat direktif denganmenekankan
pada mengajar keterampilan dan membentuk sikap dan tingkah laku.
5)
Carl R. Rogers, mengembangkan teori konseling
client-centered, yangtidak terfokus kepada masalah, tetapi sangat mementingkan
hubunganantara konselor dengan kliennya. Pendekatan atau teori konseling
Rogersini terangkum dalam dua bukunya, yaitu Counseling and Psychotherapy
(1942) dan Client-Centered Therapy (1951). Selama tahun 1960, 1970, dan
1980-an, telah terjadi perkembangan dalam peran dan fungsi konselor sekolah
berikut program-programnya. Perkembangan tersebut meliputi:
(a) pengembangan, penerapan, dan evaluasi program bimbingankomprehensif;
(b) pemberian layanan konseling secara langsung kepada para siswa,orang
tua, dan guru;
(c) perencanaan pendidikan dan pekerjaan;
(d) penempatansiswa;
(e) layanan ‘referral’, rujukan;
(f) konsultasi dengan guru-guru, tenagaadministrasi, dan orang tua.
Khusus menyangkut peran konselor di sekolah dasar,’Joint Committee on
Elementary School Counselor´ mengklasifikasikannya menjaditiga peran, yaitu:
konseling, konsultasi, dan koordinasi.
Berdasarkan penelaahan yang cukup kritis terhadap
perjalanan historis gerakan bimbingan dan konselingdi Indonesia,Prayitno
(2003)mengemukakan bahwa peridesasi perkembangan gerakan bimbingan dan koneling
di Indonesia melalui lima peiode yaitu:
1)
Prawacana dan Pengenalan (sebelum 1960 sampai 1970-an)
Pada perioode ini pembicaraan tentang bimbingan dan konseling telah
dimulai,terutama oleh para pendidik yang telah mempelajari diluar negeri dengan
dibukanya juruan bimbingan dan penyuluhan di UPI Bandung pada tahun 1963.Pembukaan
jurusan ini menandai dimulainya periode kedua yang secara tidak langsung
memperkenalkan bimbingan dan penyuluhankepada masyarakat,akademik,dan
pendidikan.Kesuksesan periode ini ditandai dengan diluluskannya sejumlah
sarjana BP dan semakin dipahami dan dirasakan kebutuhan akan pelayanan
tersebut.
2)
Pemasyarakatan (1970 sampai 1990-an)
Pada periode ini diberlakukan kurikulum 1975 untuk sekolah dasar sampai
sekolah menengah tingkat atas dengan mengintregasikan layanan BP untuk
siswa.Pada tahun ini terbentuk organisasi profesi BP dengan nama IPBI (Ikatan
Petugas Bimbingan Indonesia).Pda periode ketiga ini ditandai dengan berlakunya
kurikulum 1984 yang difokuskan pda bimmbingan karir.Pada periode ini muncul
beberapa masalah seperti:berkembangnya pemahaman yang keliru yaitu
mengidentikan bimbingan karir (BK)dengan BP sehingga muncul istilah
BP/BK,kerancuan dalam mengimplementasikan SK Menpa no 26 tahun 1989 terhadap
penyelenggaraan bimbingan di sekolah yang menyatakan bahwa semua guru dapat
diserahi tugas melaksanakan pelayanan BP yang mengakibatkan pelayanan BP
menjaddi kabur baik pemahaman maupun mengimplementasikannya.
3)
Konsolidasi (1990-2000)
Pada periode ini IPBI berusaha keras untuk mengubah kebijakan bahwa
pelayanan BP itu dapat dilaksanakan oleh semua guru yang ditandai dengan :
1)diubahnya secara resmi kata penyuluhan menjadi konseling istilah yang dipakai
sekarang adalah bimbingan dan konseling “BK” 2)pelayanan BK disekolah hanya
dilaksanakan oleh guru pembimbing yang secra khusus ditugasi untuk itu
3)mulai diselenggarakan penataran (nasional dan daerah) untuk guru-guru
pembimbing 4)mulai adanya formasi untuk mengangkat menjadi guru
pembimbing 5)pola pelayanan BK disekolah dikemas “BK Pola 17” 6)dalam bidang
pengawasan sekolah dibentuk bidng pengawaan BK 7)dikembangkannya sejumlah
panduan pelayanan BK disekolah yang lebih operasional oleh IPBI.
4)
Lepas Landas
Semula diharapkan periode konsolidasi akan dapat mencapai hasil-hasil yang
memadai,sehingga muncul tahun 2001 profesi BK di Indonesia sudah dapat di
tinggal landas.Namun kenyataannya mash ada permasalahan yang belum
terkonsolidasi yang berkenaan dengan SDM yaitu mengenai
untrained,undertrained,dan uncomitted para pelaksana pelayanan.Namun pada
tahu-tahun selanjutnya ada perkembangan menuju era lepa landas yaitu :
1)
penggantian nama organisasi profesi dari IPBI menjadi
ABKIN
2)
Lahirnya undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional yang didalamnya termuat ketentuan bahwa
konselor termasuk salah satu tenaga pendidik (bab I pasal 1 ayat 3).
3)
kerja sama pengurus besar ABKIN dengan dikti depdiknas
tentang standarisasi profesi konseling
4)
Kerja sama ABKIN dengan direktorat PLP dalam
merumuskan kompetensi guru pembimbing (konselor) SMP sekaligu memberikan
pelatihan bagi mereka.
Sejarah lengkap Bimbingan dan Konseling :
1)
Perkembangan bimbingan dan konseling
sebelum kemerdekaan
Masa ini merupakan masa penjajahan Belanda dan Jepang,
para siswa didiik untuk mengabdi emi kepentingan penjajah. Dalam situasi
seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan. Bangsa Indonesia berusaha untuk
memperjuangkan kemajun bangsa Indonesia melalui pendidikan. Salah
satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang menanamkan
nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandang bimbingan, hal
tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.
2) Dekade 40-an
Dalam bidang pendidikan, pada decade 40-an lebih
banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui
pendidikan. Melalui pendidikan yang serba darurat mkala pada saat itu di
upayakan secara bertahap memecahkan masalah besar anatara lain melalui
pemberantasan buta huruf. Sesuai dengan jiwa pancasila dan UUD 45. Hal ini
pulalaah yang menjadi focus utama dalam bimbingan pada saat itu.
3) Dekade 50-an
Bidang pendidikan menghadapi tentangan yang amat besar
yaitu memecahkan masalah kebodohan dan keterbelakangan rakyat Indonesia.
Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih banyak tersirat dalam berbagai
kegiatan pendidikan dan benar benar menghadapi tantangan dalam membantu siswa
disekolah agar dapat berprestasi.
4) Dekade 60-an
Beberapa peristiwa penting dalam pendidikan pada
dekade ini :
- Ketetapan MPRS tahun 1966 tentang dasar
pendidikan nasional
- Lahirnya kurikulum SMA gaya Baru 1964
- Lahirnya kurikulum 1968
- Lahirnya jurusan bimbingan dan konseling di IKIP
tahun 1963
Keadaan dia
tas memberikan tantangan bagi keperluan pelayanan bimbinga dan konseling
disekolah.
5) Dekade 70-an
Dalam dekade ini bimbingan di upayakan aktualisasi nya
melalui penataan legalitas sistem, dan pelaksanaannya. Pembangunan pendidikan
terutama diarahkan kepada pemecahan masalah utama pendidikan yaitu :
- Pemerataan kesempatan belajar,
- Mutu,
- Relevansi, dan
- Efisiensi.
Pada dekade ini, bimbingan dilakukan secara
konseptual, maupun secara operasional. Melalui upaya ini semua pihak telah
merasakan apa, mengapa, bagaimana, dan dimana bimbingan dan konseling.
6) Dekade 80-an
Pada dekade ini, bimbingan ini diupayakan agar mantap.
Pemantapan terutama diusahakan untuk menuju kepada perwujudan bimbingan yang
professional. Dalam dekade 80-an pembangunan telah memasuki Repelita III, IV,
dan V yang ditandai dengan menuju lepas landas.
Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam
dekade ini:
- Penyempurnaan kurikulum
- Penyempurnaan seleksi mahasiswa baru
- Profesionalisasi tenaga pendidikan dalam berbagai
tingkat dan jenis
- Penataan perguruan tinggi
- Pelaksnaan wajib belajar
- Pembukaan universitas teruka
- Ahirnya Undang – Undang pendidikan nasional
Beberapa kecenderungan yang
dirasakan pada masa itu adalah kebutuhan akan profesionalisasi layanan,
keterpaduan pengelolaan, sistem pendidikan konselor, legalitas formal,
pemantapan organisasi, pengmbangan konsep – konsep bimbingan yang berorientasi
Indonesia, dsb.
7) Meyongsong era Lepas landas
Era lepas landas mempunyai makna
sebagai tahap pembangunan yang ditandai dengan kehidupan nasional atas
kemampuan dan kekuatan sendiri khususnya dalam aspek ekonomi. Cirri kehidupan
lepas landas ditandai dengan keberadaan dan berkembang atas dasar kekuatan dan
kemampuan sendiri, maka cirri manusia lepas landas adalah manusia yang mandiri
secara utuh dengan tiga kata kunci : mental, disiplin, dan integrasi nasional
yang diharapkan terwujud dalam kemampuannya menghadapi tekanan – tekanan zaman
baru yang berdasarkan peradaban komunikasi informasi.
BIDANG-BIDANG
BK
Kegiatan BK merupakan satu bentuk tiga dimensi dari
sub unsur : bidang bimbingan,jenis layanan dan kegiatan pendukung,tahap
kegiatan.Ada empat bidanng yaitu bimingan pribadi,sosial,belajar,dan karir.
1) Bidang
bimbingan pribadi
Pelayanan bimbingan pribadi bertujuan membantu siswa mengenal ,menemukan
dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME,mandiri
serta sehat jasmani dan rohani,yang menjadi pokok-pokok :
a)
Pemantapan kebiasaan dan pengembangan sikap dalam
beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME.
b)
Pemahaman kekuatan diri dan arah pengembangannya
melalui kegiatan kreatif dan produktif baik dalam kehidupan sehari-hari
dimasyarakat maupun untuk kehidupan masa depan.
c)
Pemahaman bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan
pengembangannya melalui kegiatan kreatif dan produktif.
d)
Pemahaman pengamalan hidup sehat.
2) Bidang
bimbingan sosial
Pelayanan bimbingan ini bertujuan membantu siswa dalam kaitannya dengan
lingkungan dan etikapergaulan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur dan
tanggung jawab sosial,dengan pokok-pokok :
a)
Pengembangan perkembangan berkomunikasi baik secara
lisan maupun tertulis.
b)
Pengembangan bertingkah laku dan berhubungan sosial.
c)
Pengembangan hubungan yang harmonis dengan teman
sebaya.
d)
Pemahaman dan pengamalan disiplin dan peraturan
sekolah.
3) Bidang
bimbingan belajar
Pelayanan bimbingan ini bertujuan membantu siswa mengenal,menumbuhkan dan
mengembangkan diri,sikap belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan
keterampilan sesuai dengan program belajar dalam rangka menyiapkannya
pendidikan ketingkat yang lebih tinggi dan berperan serta dalam
masyarakat,dengan pokok-pokok :
a)
Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
b)
Menumbuhkan disiplin belajar dan berlatihbaik secara
individual atau kelompok.
c)
Mengembangan penguasaan materi program belajar.
d)
Mengembangkan pemahaman dan pemanfaatan kondisi
fisik-sosial dan pengembangan pengetahuan,keterampilan,dan pengembangan
pribadi.
e)
Orientasi belajar disekolah.
4) Bidang
bimbingan karir
Pelayanan bimbingan ini ditujukan ntuk mengenal potensi diri sebagai
prasyarat dalam mempersiapkan masa depan karir masing-masing siswa,dengan
pokok-pokok :
a)
Pengenalan konsep diri berkaitan dengan bakat dan
kecenderungan pilihan jabatan serta arah pengembanagn karir.
b)
Pengenalan bimbingan kerja/karir khususnya berhubungan
dengan pilihan kerja.
c)
Orientasi dan informasi jabatan dan usaha memperoleh
penghasilan.
d)
Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat
dimasukinya.
e)
Orientasi dan informasi pedidikan selanjutnya