Kamis, 15 November 2012

abhidhamma Pitaka

Abhidhamma Pitaka



Sebelum diketahui isinya diduga bahwa Abhidhamma berarti ‘metafisika’. Kita kini mengetahui bahwa ini bukan filsafat yang sistematis, melainkan penyajian khusus tentang Dhamma seperti terdapat dalam Sutta-Pitaka. Pada umumnya, isinya terdapat dalam sutta-sutta, akan tetapi diuraikan dalam bagian ini dalam bentuk tanya-jawab yang terperinci.


Kebanyakan bersifat kejiwaan dan logika; di dalamnya, ajaran-ajaran pokok tidak dibahas tetapi diterima sebagaimana adanya.

Vinaya Pitaka


Vinaya Pitaka
Setelah Pertapa Gautama mencapai penerangan sempurna dibawah pohon Bodhi dihutan uruvela, dua bulan kemudian sebagai seorang Buddha selama 45 tahun, Beliau dengan penuh cinta kasih mengajarkan Dhamma kepada para Brahmana dan pertapa, raja dan pengeran-pangeran, cendekiawan dan mereka yang sederhana pikirannya, pedagang dan pekerja serta semua lapisan masyarakat lain sesuai dengan kemampuan dan mencapai tingkat mereka masing-masing. Menurut Vinaya Atthakatha (Samantapasadika), Sang Buddha mulai memberikan vinaya setelah 20 tahun pencapaian penerangan sempurna. Pada waktu itu mulai timbul perilaku Bhikkhu-Bhikkhu yang bukan saja merugikan perkembangan spiritualnya sendiri, tetapi juga berpengaruh terhadap citra Sangha dan Agama Buddha pada umunya. Di samping itu, terdapat juga para Bhikkhu yang sebelumnya adalah pertapa dari berbagai aliran keagamaan yang berbeda pula tatakrama dan tradisinya dalam menjalani kehidupan spiritual (pertapa).
Latar nelakang yang majemuk itu berbagai prilaku yang buruk dan perilaku yang tidak sesuai dengan kehidupan seorang samana (pertapa) menurut pandangan Agama Buddha. oleh sebab itu, sewaktu Sang Buddha masih hidup, setiap terjadi seorang Bhikkhu melakukan perbuatan yang dapat dicela oleh para bijaksana, maka Sang Buddha menetapkan peraturan. Bila dikemudian hari ada peraturan yang dilanggar (apatti) dan dinyatakan bersalah. Dengan demikian makin lama makin banyak peraturan yang ditetapkan oleh Sang Buddha.
Setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana (wafat), Arahat Maha Kassapa, melihat perlunya dikumpulkan Dhamma yang pernah diajarkan oleh Sang Buddha agar tidak timbul perselisihan dikemudian hari diantara para pengikutnya. Jangankan sebulan, seminggu setelah Sang Buddha Parinibbana (483 S.M) seorang yang telah menjadi Bhikkhu dengan berusia tua dan tidak disiplin bernama Subhadda berkata:
“Jangan sedih kawan-kawan, jangan meratap, sekarang kita terbebas dari pertapa Agung yang tidak lagi memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak dilakukan, yang membuat hidup kita menderita, tetapi kita sekarang dapat berbuat apa saja yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi”. (Vinaya Pitaka II, 284)
Setelah mendengan ucapan Bhikkhu Subhadda demikian, maka Arahat Maha Kassapa atas bantuan Raja Ajatasattu dari Magada, segera mengundang 500 arahat untuk berkumpul, untuk mengumpulkan semua ajaran Sang Buddha yang diwedarka-Nya selama ini dan menyusun secara sistematis. Dalam konsili pertama yang dipimpin oleh Arahat Maha Kassapa yang berlangsung selama tujuh bulan di gua Sattapani dekat rajagaha. Arahat upali mendapat kehormatan untuk mengulang kembali vinaya dan Arahat Ananda mengulang kembali Dhamma yang disaksikan oleh para Arahat lainnya.
Vinaya adalah sebutan secara kolektif untuk peraturan latihan disiplin dan tradisi kebhikkhuan serta tradisi keviharaan, selebihnya yaitu semua diskusi, ceramah, dan kotbah yang disampaikan kepada Bhikkhu, Bhikkhuni, Samanera, dan Samaneri, Upasaka dan upasika, kesemuanya secara kolektif disebut Dhamma (Dharma dalam Sanskrit). Dhamma dan Vinaya yang dikumpulkan dalam konsisli pertama tersebut diterima dan disetujui sebagai ajaran Sang Buddha menjelang Belau mencapai Parinibbana; “Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu”. 100 tahun kemudian konsili kedua untuk menyelesaikan perselisihan mengenai Vinaya. Tiga bulan setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana tidak dirasakan perlu untuk merubah Vinaya walaupun Sang Buddha membiarkan Sangha merubah peraturan-peraturan kecil. Sang Buddha juga bersabda, jika Vinaya dikurangi dan ditambah maka Sangha akan hidup rukun dan tidak akan terpecah. Oleh karena tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai mana yang boleh dirubah dan mana yang merupakan peraturan kecil serta dipandang tidak pantas merubah vinaya selagi “abuh jenazah Sang Buddha masih panas”, maka mereka tidak mengurangi maupun menambah Vinaya yang diberikan oleh Sang Buddha.
Akan tetapi, 100 tahun kemudian sekelompok Bhikkhu dari Vesali telah merubah beberapa peraturan yang dianggap sebagai peraturan kecil. Kelompok Bhikkhu lain menolak perubahan yang dilakukan leh Bhikkhu-Bhikkhu dari Vesali dan tetap berpegang pada Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha yng telah ditetapkan dalam konsili pertama. Mengahadapi perkembangan ini, atas bantuan Raja Kalasoka diselenggarakan sebuah konsili Kedua di Vesali yang merupakan tempat terjadinya penyimpangan Vinaya. Dalam konsili Kedua, Dhamma dan Vinaya yang dihafalkan dan diturunkan secara lisan, kemudian duicap ulang oleh 700 Arahat. Dalam Konsisli ini, Bhikkhu-Bhikkhu yang menyimpang dari Vinaya yang diberikan oleh Sang Buddha Disalahkan. Pada konsisli pertama para Arahat diakui otoritasnya dalam menentukan mana yang Dhamma dan mana yang bukan Dhamma, mana yang Vinaya dan bukan Vinaya. Akan tetapi, 100 tahun kemudian dalam konsisli kedua otoritasnya para Arahat digugat oleh sekelompok Bhikkhu yang dipimpin oleh Bhikkhu Mahadeva. Mereka berpendapat, bahwa dalam menentukan Dhamma dan Vinaya tidak dibedakan antara Arahat dan Bukan Arahat.
Kelompok yang menggugat otoritas Arahat (yang jumlahnya besar) memisahkan diri dan mengadakan konsili sendiri. kelompok ini dinamakan Mahasanghika (Kelompok besar) dan kelompok yang memandang bahwa para Arahat mempunyai otoritas menentukan Dhamma dan Vinaya disebut Staviravada (sansekerta) atau Theravada (pali). Dalam perkembangan selanjutnya, Theravada dan Mahasanghika, masing-masing terpecah menjadi dua sekte.
Setelah abad ketiga setelah Sang Buddha Parinibbana diadakan konsili ketiga, yang tidak hanya membicarakan tentang Vinaya tetapi juga membahas tentang perbedaan Dhamma antar sekte. Konsili ketiga berlangsung selama sembilan bulan yang dipimpin oleh Moggaliputra Tissa. Kelompok Theravada pecah menjadi dua; Theravada dan Staviravada. Setelah konsili ketiga, Maha Raja Asoka mengirim Dhammaduta keseluruh penjuru untuk menyebarkan Dhamma. Pada abad pertama Masehi, diadakan konsili yang disponsori leh Raja Kaniska. Konsili yang didominasi oleh Mazhab Staviravada dan tidak dihadiri oleh Mazhab Theravada karena tidak dianggap sebagai konsili keempat. Theravada mengadakan konsili keempat sendiri yang disponsori oleh Raja Vatta Gamanabhaya di Alu Vihara Sri Lanka. Pada kesempatan itu, Kitan Tipitaka dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini adalah melestarikan Dhamma, karena dirasakan makin sedikit orang yang mampu menghafalkan Kitab Tipitaka dan agar semua orang mengetahui kemurnia Dhamma.

Senin, 15 Oktober 2012

sejarah BK


SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING DI DUNIA
Pemikiran-pemikiran mengenai bimbingan dan konseling memang sudah ada sejak jaman Yunani kuno. Karena ketertarikannya pada pemahaman psikologis individu, Plato dianggap sebagai konselor Yunani kuno saat itu. Kemudian menyusultokoh-tokoh lain seperti Aristoteles, Hippocrates, dan para dokter (tabib) yang jugamenaruh perhatian terhadap bidang psikologi. Namun, gerakan bimbingan dan konseling di sekolah mulai berkembangsekitar permulaan abad ke-20 sebagai dampak dari revolusi industri. Tepatnya tahun1908-1909 yang merupakan periode dasar-dasar ilmiah bimbingan dan konselingdiletakkan oleh beberapa ahli ilmu jiwa dan pendidikan. Masalah bimbingan dankonseling di Amerika Serikat telah mulai dirintis sejak tahun 1887.
Di AmerikaSerikat, gerakan bimbingan dan konseling dipelopori oleh tokoh-tokoh berikut:
1)     Eli Weaper, pada tahun 1906 menerbitkan buku ‘Memilih Suatu Karir´dan membentuk komite guru pembimbin g di setiap sekolah menengah di New York. Komite tersebut bergerak untuk membantu siswa dalammenemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang bimbinganmenggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadiseorang pekerja yang produktif.
2)     Jesse B. Davis, seorang konselor sekolah di Detroit mulai memberikanlayanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA pada tahun 1898.Pada tahun 1907, dia diangkat menjadi kepala SMA di Grand Rapids,Michigan, dan memasukkan program bimbingan di sekolah tersebut. Tujuan dari program bimbingan tersebut adalah untuk membantu siswa agar mampu:
 (a) mengembangkan karakternya yang baik sebagai asset bagisetiap siswa dalam rangka merencanakan, mempersiapkan, dan memasukidunia kerja;
(b) mencegah dirinya dari perilaku bermasalah;  
(c)menghubungkan minat pekerjaan dengan kurikulum

3)     Frank Parson, dikenal sebagai ‘Father of The Guidance Movement in American Education’. Dia mendirikan biro pekerjaan pada tahun 1908 diBoston Massachussets, yang bertujuan membantu siswa dalam memilih karir yang didasarkan atas proses seleksi secara alamiah dan melatih guruuntuk memberikan pelayanan sebagai konselor. Dialah yang mengemukakan istilah atau pengertian tentang vocational guidance. Dia pulayang mengusulkan agar masalah vocational guidance dimasukkan dalamkurikulum sekolah.
4)     E. G. Will Amson, pada akhir tahun 1930 dan awal tahun 1940 menulis buku ‘How to Counsel Students: A manual of Techniques for Clinical Counselors’. Model bimbingan sekolah yang dikembangkan oleh Williamson terkenal dengan nama trait and factor (directive) guidance. Dalam model ini, para konselor menggunakan informasi untuk membantusiswa dalam memecahkan masalahnya, khususnya dalam bidang pekerjaandan penyesuaian interpersonal. Peranan konselor bersifat direktif denganmenekankan pada mengajar keterampilan dan membentuk sikap dan tingkah laku.
5)     Carl R. Rogers, mengembangkan teori konseling client-centered, yangtidak terfokus kepada masalah, tetapi sangat mementingkan hubunganantara konselor dengan kliennya. Pendekatan atau teori konseling Rogersini terangkum dalam dua bukunya, yaitu Counseling and Psychotherapy (1942) dan Client-Centered Therapy (1951). Selama tahun 1960, 1970, dan 1980-an, telah terjadi perkembangan dalam peran dan fungsi konselor sekolah berikut program-programnya. Perkembangan tersebut meliputi:
(a) pengembangan, penerapan, dan evaluasi program bimbingankomprehensif;
(b) pemberian layanan konseling secara langsung kepada para siswa,orang tua, dan guru;
(c) perencanaan pendidikan dan pekerjaan;
(d) penempatansiswa;
(e) layanan ‘referral’, rujukan;  
(f) konsultasi dengan guru-guru, tenagaadministrasi, dan orang tua.
Khusus menyangkut peran konselor di sekolah dasar,’Joint Committee on Elementary School Counselor´ mengklasifikasikannya menjaditiga peran, yaitu: konseling, konsultasi, dan koordinasi.
Berdasarkan penelaahan yang cukup kritis terhadap perjalanan historis gerakan bimbingan dan konselingdi Indonesia,Prayitno (2003)mengemukakan bahwa peridesasi perkembangan gerakan bimbingan dan koneling di Indonesia melalui lima peiode yaitu:

1)     Prawacana dan Pengenalan (sebelum 1960 sampai 1970-an)
Pada perioode ini pembicaraan tentang bimbingan dan konseling telah dimulai,terutama oleh para pendidik yang telah mempelajari diluar negeri dengan dibukanya juruan bimbingan dan penyuluhan di UPI Bandung pada tahun 1963.Pembukaan jurusan ini menandai dimulainya periode kedua yang secara tidak langsung memperkenalkan bimbingan dan penyuluhankepada masyarakat,akademik,dan pendidikan.Kesuksesan periode ini ditandai dengan diluluskannya sejumlah sarjana BP dan semakin dipahami dan dirasakan kebutuhan akan pelayanan tersebut.
2)     Pemasyarakatan (1970 sampai 1990-an)
Pada periode ini diberlakukan kurikulum 1975 untuk sekolah dasar sampai sekolah menengah tingkat atas dengan mengintregasikan layanan BP untuk siswa.Pada tahun ini terbentuk organisasi profesi BP dengan nama IPBI (Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia).Pda periode ketiga ini ditandai dengan berlakunya kurikulum 1984 yang difokuskan pda bimmbingan karir.Pada periode ini muncul beberapa masalah seperti:berkembangnya pemahaman yang keliru yaitu mengidentikan bimbingan karir (BK)dengan BP sehingga muncul istilah BP/BK,kerancuan dalam mengimplementasikan SK Menpa no 26 tahun 1989 terhadap penyelenggaraan bimbingan di sekolah yang menyatakan bahwa semua guru dapat diserahi tugas melaksanakan pelayanan BP yang mengakibatkan pelayanan BP menjaddi kabur baik pemahaman maupun mengimplementasikannya.

3)     Konsolidasi (1990-2000)
Pada periode ini IPBI berusaha keras untuk mengubah kebijakan bahwa pelayanan BP itu dapat dilaksanakan oleh semua guru yang ditandai dengan : 1)diubahnya secara resmi kata penyuluhan menjadi konseling istilah yang dipakai sekarang adalah bimbingan dan konseling “BK” 2)pelayanan BK disekolah hanya dilaksanakan oleh guru pembimbing  yang secra khusus ditugasi untuk itu 3)mulai diselenggarakan penataran (nasional dan daerah) untuk guru-guru pembimbing 4)mulai  adanya formasi untuk mengangkat menjadi guru pembimbing 5)pola pelayanan BK disekolah dikemas “BK Pola 17” 6)dalam bidang pengawasan sekolah dibentuk bidng pengawaan BK 7)dikembangkannya sejumlah panduan pelayanan BK disekolah yang lebih operasional oleh IPBI.

4)     Lepas Landas
Semula diharapkan periode konsolidasi akan dapat mencapai hasil-hasil yang memadai,sehingga muncul tahun 2001 profesi BK di Indonesia sudah dapat di tinggal landas.Namun kenyataannya mash ada permasalahan yang belum terkonsolidasi yang berkenaan dengan SDM  yaitu mengenai untrained,undertrained,dan uncomitted para pelaksana pelayanan.Namun pada tahu-tahun selanjutnya ada perkembangan menuju era lepa landas yaitu :
1)      penggantian nama organisasi profesi dari IPBI menjadi ABKIN
2)      Lahirnya undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang didalamnya termuat ketentuan bahwa konselor  termasuk salah satu tenaga pendidik (bab I pasal 1 ayat 3).
3)      kerja sama pengurus besar ABKIN dengan dikti depdiknas tentang standarisasi profesi konseling
4)      Kerja sama ABKIN dengan direktorat PLP dalam merumuskan kompetensi guru pembimbing (konselor) SMP sekaligu memberikan pelatihan bagi mereka.
Sejarah lengkap Bimbingan dan Konseling :
1)     Perkembangan bimbingan dan konseling sebelum kemerdekaan
Masa ini merupakan masa penjajahan Belanda dan Jepang, para siswa didiik untuk mengabdi emi kepentingan penjajah. Dalam situasi seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan. Bangsa Indonesia berusaha untuk memperjuangkan kemajun bangsa   Indonesia melalui pendidikan. Salah satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandang bimbingan, hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.

2) Dekade 40-an
Dalam bidang pendidikan, pada decade 40-an lebih banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Melalui pendidikan yang serba darurat mkala pada saat itu di upayakan secara bertahap memecahkan masalah besar anatara lain melalui pemberantasan buta huruf. Sesuai dengan jiwa pancasila dan UUD 45. Hal ini pulalaah yang menjadi focus utama dalam bimbingan pada saat itu.

3) Dekade 50-an
Bidang pendidikan menghadapi tentangan yang amat besar yaitu memecahkan masalah kebodohan dan keterbelakangan rakyat Indonesia. Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan benar benar menghadapi tantangan dalam membantu siswa disekolah agar dapat berprestasi.

4) Dekade 60-an
Beberapa peristiwa penting dalam pendidikan pada dekade ini :
  1. Ketetapan MPRS tahun 1966 tentang dasar pendidikan nasional
  2. Lahirnya kurikulum SMA gaya Baru 1964
  3. Lahirnya kurikulum 1968
  4. Lahirnya jurusan bimbingan dan konseling di IKIP tahun 1963
Keadaan dia tas memberikan tantangan bagi keperluan pelayanan bimbinga dan konseling disekolah.

5) Dekade 70-an
Dalam dekade ini bimbingan di upayakan aktualisasi nya melalui penataan legalitas sistem, dan pelaksanaannya. Pembangunan pendidikan terutama diarahkan kepada pemecahan masalah utama pendidikan yaitu :
  1. Pemerataan kesempatan belajar, 
  2. Mutu, 
  3. Relevansi, dan 
  4. Efisiensi. 
Pada dekade ini, bimbingan dilakukan secara konseptual, maupun secara operasional. Melalui upaya ini semua pihak telah merasakan apa, mengapa, bagaimana, dan dimana bimbingan dan konseling.

6) Dekade 80-an
Pada dekade ini, bimbingan ini diupayakan agar mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk menuju kepada perwujudan bimbingan yang professional. Dalam dekade 80-an pembangunan telah memasuki Repelita III, IV, dan V yang ditandai dengan menuju lepas landas.
Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini:
  1. Penyempurnaan kurikulum
  2. Penyempurnaan seleksi mahasiswa baru
  3. Profesionalisasi tenaga pendidikan dalam berbagai tingkat dan jenis
  4. Penataan perguruan tinggi
  5. Pelaksnaan wajib belajar
  6. Pembukaan universitas teruka
  7. Ahirnya Undang – Undang pendidikan nasional
Beberapa kecenderungan yang dirasakan pada masa itu adalah kebutuhan akan profesionalisasi layanan, keterpaduan pengelolaan, sistem pendidikan konselor, legalitas formal, pemantapan organisasi, pengmbangan konsep – konsep bimbingan yang berorientasi Indonesia, dsb.

7) Meyongsong era Lepas landas
Era lepas landas mempunyai makna sebagai tahap pembangunan yang ditandai dengan kehidupan nasional atas kemampuan dan kekuatan sendiri khususnya dalam aspek ekonomi. Cirri kehidupan lepas landas ditandai dengan keberadaan dan berkembang atas dasar kekuatan dan kemampuan sendiri, maka cirri manusia lepas landas adalah manusia yang mandiri secara utuh dengan tiga kata kunci : mental, disiplin, dan integrasi nasional yang diharapkan terwujud dalam kemampuannya menghadapi tekanan – tekanan zaman baru yang berdasarkan peradaban komunikasi informasi.
BIDANG-BIDANG BK
Kegiatan BK merupakan satu bentuk tiga dimensi dari sub unsur : bidang bimbingan,jenis layanan dan kegiatan pendukung,tahap kegiatan.Ada empat bidanng yaitu bimingan pribadi,sosial,belajar,dan karir.

1)     Bidang bimbingan pribadi
Pelayanan bimbingan pribadi bertujuan membantu siswa mengenal ,menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME,mandiri serta sehat jasmani dan rohani,yang menjadi pokok-pokok :
a)     Pemantapan kebiasaan dan pengembangan sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME.
b)     Pemahaman kekuatan diri dan arah pengembangannya melalui kegiatan kreatif dan produktif baik dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat maupun untuk kehidupan masa depan.
c)     Pemahaman bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan pengembangannya melalui kegiatan kreatif  dan produktif.
d)    Pemahaman pengamalan hidup sehat.

2)     Bidang bimbingan sosial
Pelayanan bimbingan ini bertujuan membantu siswa dalam kaitannya dengan lingkungan dan etikapergaulan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur dan tanggung jawab sosial,dengan pokok-pokok :
a)      Pengembangan perkembangan berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis.
b)      Pengembangan bertingkah laku dan berhubungan sosial.
c)      Pengembangan hubungan yang harmonis dengan teman sebaya.
d)     Pemahaman dan pengamalan disiplin dan peraturan sekolah.

3)     Bidang bimbingan belajar
Pelayanan bimbingan ini bertujuan membantu siswa mengenal,menumbuhkan dan mengembangkan diri,sikap belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan program belajar dalam rangka menyiapkannya pendidikan ketingkat yang lebih tinggi dan berperan serta dalam masyarakat,dengan pokok-pokok :
a)      Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.
b)      Menumbuhkan disiplin belajar dan berlatihbaik secara individual atau kelompok.
c)      Mengembangan penguasaan materi program belajar.
d)     Mengembangkan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik-sosial dan pengembangan pengetahuan,keterampilan,dan pengembangan pribadi.
e)      Orientasi belajar disekolah.

4)     Bidang bimbingan karir
Pelayanan bimbingan ini ditujukan ntuk mengenal potensi diri sebagai prasyarat dalam mempersiapkan masa depan karir masing-masing siswa,dengan pokok-pokok :
a)      Pengenalan konsep diri berkaitan dengan bakat dan kecenderungan pilihan jabatan serta arah pengembanagn karir.
b)      Pengenalan bimbingan kerja/karir khususnya berhubungan dengan pilihan kerja.
c)      Orientasi dan informasi jabatan dan usaha memperoleh penghasilan.
d)     Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasukinya.
e)      Orientasi dan informasi pedidikan selanjutnya